Tampilkan postingan dengan label Askeb III Nifas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Askeb III Nifas. Tampilkan semua postingan

Senam Nifas

PENGERTIAN
Senam nifas adalah senam yang dilakukan ibu-ibu setelah melahirkan setelah keadaan tubuhnya pulih kembali.
Senam nifas bertujuan untuk mempercepat penyembuhan, mencegah timbulnya komplikasi, memulihkan dan menguatkan otot-otot punggung, otot dasar panggul dan otot perut.
TUJUAN
  1. Membantu mencegah pembentukan bekuan (trombosis) pada pembuluh tungkai dan membantu kemajuan ibu dari ketergantungan peran sakit menjadi sehat dan tidak bergantung
  2. berguna bagi semua system tubuh, terutama fungsi usus, kandung kemih, sirkulasi dan paru-paru.
  3. memungkinkan tubuh ibu menjadi sembuh
TATA CARA MELAKUKAN SENAM NIFAS
Senam nifas ini merupakan latihan yang tepat untuk memulihkan tubuh ibu dan bermanfaat juga untuk memulihkan keadaan ibu baik psikologis maupun fisiologis. Latihan ini dapat dimulai sejak hari 1 setelah melahirkan hingga minggu ke enam setelah melahirkan. Latihan ini dilakukan dalam waktu 5-10 kali hitungan setiap harinya dan akan meningkat secara perlahan-lahan. Senam nifas ini dilakukan dengan berbagai macam gerakan dan setiap gerakan mempunyai manfaat sendiri. Gerakan-gerakan tersebut terdiri dari:

Hari Pertama
Sikap tubuh terlentang dan rileks,kemudian lakukan pernafasan perut diawali dengan mengambil nafas melalui hidung dan tahan hingga hitungan ke-5 atau hitungan ke-8 kemudian buang melalui mulut. Lakukan hingga 5-10 kali.

Hari kedua
Sikap tubuh terlentang tapi kedua tangan dibuka lebar hingga sejajar dengan bahu kemudian pertemukan kedua tangan tersebut tepat diatas muka. Lakukan gerakan ini hingga 5-10 kali.

Hari ketiga
Sikap tubuh terlentang tapi kedua kaki agak dibengkokkan sehingga kedua telapak kaki menyentuh lantai. Lalu angkat pantat ibu dan tahan hingga hitungan ke-3 atau ke-5 lalu turunkan pantat ke posisi semula dan ulangi kembali gerakan hingga 5-10 kali.

Hari keempat
Sikap tubuh bagian atas terlentang dan kaki ditekuk ± 45º kemudian salah satu tangan memegang perut setelah itu angkat tubuh ibu ± 45º dan tahan hingga hitungan ke-3 atau ke-5. Lakukan gerakan tersebut 5-10 kali.

Hari kelima
Sikap tubuh masih terlentang kemudian salah satu kaki ditekuk ± 45º kemudian angkat tubuh dan tangan yang bersebrangan dengan kaki yang ditekuk usahakan tangan menyentuh lutut. Gerakan ini dilakukan secara bergantian dengan kaki dan tangan yang lain. Lakukan hingga 5-10 kali.

Hari keenam
Sikap tubuh terlentang kemudian tarik kaki sehingga paha membentuk sudut ± 90º lakukan secara bergantian dengan kaki yang lain. Lakukan 5-10 kali.
»»  READ MORE...

PROSES LAKTASI


Fisiologi Laktasi


Proses laktasi (menyusui) timbul setelah ari-ari atau plasenta lepas. Plasenta mengandung hormon yang menghambat pembentukan ASI. Setelah plasenta lepas, hormon tersebut tidak ad lagi sehingga ASI pun keluar.


Mulai bulan ke-3 masa kehamilan, tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara. Dan akan berfungsi ketika bayi lahir.


Proses bekerjanya hormon adalah sebagai berikut :


1. Saat bayi menghisap, sejumlah sel syaraf di payudara ibu mengirimkan pesan ke hipotalamus

2. Ketika menerima pesan itu, hipotalamus melepas “rem” penahan prolaktin

3. Untuk memulai menghasilkan ASI, prolaktin yang dihasilkan kelenjar pituitari merangsang kelenjar-kelenjar susu di payudara ibu.


Hormon-hormon yang terlibat dalam proses pembentukan ASI adalah sebagai berikut :


1. Progesteron


Mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Kadar progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan . hal ini menstimulasi produksi ASI secara besar-besaran.


2. Estrogen


Menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Kadar estrogen dalam tubuh menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui.


3. Prolaktin


Berperan dalam membesarnya alveoli pada masa kehamilan.


4. Oksitosin


Mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya, dan mengencangkan otot halus disekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu (let down/ejection reflex).


5. Human placental lactogen


Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta mengeluarkan banyak HPL yang berperan dalam pertumbuhan payudara, putting, dan areola sebelum melahirkan. Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Namun ASI bisa juga diproduksi tanpa kehamilan (induced lactation).


Proses pembentukan Laktogen


1. Laktogenesis I


Pada fase akhir kehamilan, payudara wanita memasuki fase laktogenesis I. saat itu payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental yang kekuningan. Pada saat itu, tingkat progesteron yang tinggi mencegah produksi ASI yang sebenarnya. Namun hal ini bukan merupakan masalah medis. Apabila ibu mengeluarkan kolostrum sebelum bayi lahir, hal ini bukan merupakan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI sebenarnya nanti.


2. Laktogenesis II


Saat melahirkan keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat hormon progesteron, estrogen, dan HPL, secara tiba-tiba. Namun hormon prolaktin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran. Apabila payudara dirangsang, jumlah prolaktin dalam darah akan meningkat dan mencapai puncaknya pada periode 45 menit, kemudian kembali ke level sebelumnya rangsangan 3 jam kemudian. Keluarnya kadar hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI dan hormon ini juga keluar dalam ASI sendiri. Penelitian mengindikasikan apabila produksi ASI lebih banyak, yaitu sekitar pkl 02.00 dini hari hingga pkl 06.00 pagi. Sedangkan jumlah prolaktin rendah saat payudara terasa penuh.


3. Laktogenesis III


Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem kontrol otokrin dimulai. Pada tahap ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan banyak pula. Dengan demikian, produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan seberapa baik bayi menghisap, juga seberapa sering payudara dikosongkan.


Pengeluaran Air Susu


Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat di dalam glandula pituitari posterior. Akibat langsung refleks ini adalah dikeluarkannya oksitosin dari pituitari posterior. Hal ini menyebabkan sel-sel mioepitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong ASI masuk ke dalam pembuluh ampulae. Refleks ini dapat dihambat oleh adanya rasa sakit, misalnya jahitan perineum. Dengan demikian penting untuk menempatkan ibu dalam posisi yang nyaman, santai dan bebas rasa sakit, terutama pada jam-jam menyusukan anak.


Pengeluaran prolaktin dihambat oleh faktor-faktor yang belumjelas bahannya, namun beberapa bahan terdapat kandungan seperti dopamin, serotonin, katekolamin, dan TSH yang ada kaitannya dengan pengeluaran prolaktin. Pengeluaran oksitosin dipengaruhi oleh hisapan bayi dan juga oleh suatu reseptor khusus yang terletak dalam sistem duktus. Bila duktus melebar atau menjadi lunak, maka secara reflektoris dikeluarkan oksitosin oleh hipofisis yang berperan untuk memeras ASI dari alveoli. Jadi peranan prolaktin dan oksitosin mutlak diperlukan di samping faktor-faktor lain selama menyusui.


Pemeliharaan ASI


Penyediaan berlangsung terus sesuai kebutuhan. Apabila bayi tidak disusui maka penyediaan ASI tidak akan dimulai. Apabila seorang ibu dengan bayi kembar menyusukan kedua bayinya bersama, maka penyediaan air susu akan tetap cukup untuk kedua bayi tersebut. Makin sering bayi disusukan, penyediaan air susu ibu juga makin baik.


Dua faktor penting untuk pemeliharaan ASI adalah rangsangan dan pengosongan payudara


Rangsangan


Sebagai respon terhadap penghisapan, prolaktin dikeluarkan dari glandula pituitari anterior dan dengan demikian memacu pembentukan ASI yang lebih banyak. Apabila karena suatu alasan tertentu bayi tidak dapat menyusu sejak awal, maka ibu dapat memeras air susu dari payudaranya dengan tangan atau menggunakan breast pump. Akan tetapi penghisapan oleh bayi akan memberikan rangsangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kedua cara tersebut.


Pengosongan sempurna payudara


Bayi sebaiknya mengosongkan payudara sebelum diberikan payudara yang lain. Apabila ASI yang diproduksi tidak dikeluarkan, maka laktasi akan tertekan (mengalami hambatan) karena terjadi pembengkakakn alveoli dan sel-sel mioepitel tidak dapat berkontraksi kemudian ASI tidak dapat di paksa masuk ke dalam duktus laktiferus. Rutinitas dan pola minum ASI akan terbentuk dan minumnya akan lebih jarang apabila laktasi tidak berfungsi penuh.


Penyebab produksi ASI rendah adalah :


  • Kurang seringnya ibu menyusui bayi
  • Bayi tidak bisa menyusui karena struktur rahang dan mulutnya kurang baik, teknik perlekatan yang salah, dll
  • Kuranya gizi ibu


Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI antara lain :


  • Frekuensi pemberian ASI
  • Berat bayi saat lahir
  • Usia kehamilan saat melahirkan
  • Usia ibu dan paritas
  • Stress dan penyakit akut
  • Mengkonsumsi rokok
  • Mengkonsumsi alkohol
  • Memakai kontarsepsi yang menghambat ASI

»»  READ MORE...

KLIMAKTERIUM

A. Pengertian
Klimakterium adalah masa yang bermula dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium dan terjadi pada wanita berumur 40-65 tahun.
Masa-masa klimakterium :
  1. Pra menopause adalah kurun waktu 4-5 tahun sebelum menopause.
  2. Menopause adalah henti haid seorang wanita.
  3. Pasca menopause adalah kurun waktu 3-5 tahun setelah menopause.

B. Etiologi
Sebelum haid berhenti, sebenarnya pada seorang wanita terjadi berbagai perubahan dan penurunan fungsi pada ovarium seperti sklerosis pembuluh darah, berkurangnya jumlah folikel dan menurunnya sintesis steroid seks, penurunan sekresi estrogen, gangguan umpan balik pada hipofise.

A. Patofisiologi
Penurunan fungsi ovarium menyebabkan berkurangnya kemampuan ovarium untuk menjawab rangsangan gonadotropin, sehingga terganggunya interaksi antara hipotalamus – hipofise. Pertama-tama terjadi kegagalan fungsi luteum . Kemudian turunnya fungsi steroid ovarium menyebabkan berkurangnya reaksi umpan balik negatif terhadap hipotalamus. Keadaan ini meningkatkan produksi FSH dan LH. Dari kedua gonadoropin itu, ternyata yang paling mencolok peningkatannya adalah FSH.

B. Manifestasi Klinik
  1. Pramenopause : perdarahan tidak teratur, seperti oligomenore, polimenore, dan hipermenore.
  2. Gangguan nerovegetatif : gejolak panas ( hotflushes), keringat banyak, rasa kedinginan, sakit kepala, desing dalam telinga, tekanan darah yang goyah, jari-jari atrofi, gangguan usus ( meteorismus ).
  3. Gangguan psikis : mudah tersinggung, lekas lelah, semangat berkurang, susah tidur.
  4. Gangguan organik : infark miokard aterosklerosis, osteosklerosis, osteoporosi, afipositas, kolpitis, disuria, dispareumia artritis, gejala endokrinium berupa hipertirosis defeminisasi, virilasi dan gangguan libido.

C. Diagnosis
  1. Umur dan gejala-gejala yang timbul.
  2. FSH dan LH ( FSH = 10-12 x, LH 5-10 x / estrogen rendah ).
  3. Kalsium, kolesterol.
  4. Foto tulang lumbal I.
  5. Sitologi ( Pap Smear ).
  6. Biopsi endometrium.

D. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan tahunan terhadap wanita yang sedang berada pada masa klimakterium harus mencakup hal-hal yang penting seperti :
  1. Tinggi badan, wanita mungkin akan kehilangan tinggi badan sebanyak 2,5 cm atau lebih. Sewaktu mengukur tinggi badan merupakan kesempatan untuk mendiskusikan postur, pergerakan tubuh, latihan dan osteoporosis.
  2. Kulit, evaluasi terhadap integritas, luka dan perubahan pada tahi lalat.
  3. Mulut, gigi dan gusi.
  4. Pemeriksaan panggul, dengan perhatian terhadap perubahan yang menyertai proses penuaan ; spekulum Pederson mungkin optimal untuk wanita paska menopause.
  5. Rektum : periksa adanya keanehan pada darah, adanya massa dan fisura-fisura.

E. Penatalaksanaan
1. Sedatif, psikofarma.
2. Psikoterapi.
3. Balneoterapi ( diet ).
4. Hormonal. Sindrom klimakterium terjadi akibat kekurangan estrogen maka pengobatan yang tepat adalah pemberian estrogen.

Syarat minimal sebelum pemberian estrogen dimulai :
1. Tekanan darah tidak boleh tinggi.
2. Pemeriksaan sitologi uji Pap normal.
3. Besar uretus normal ( tidak ada mioma uerus ).
4. Tidak ada varises di ekstremitas bawah.
5. Tidak terlalu gemuk / tidak obesitas.
6. Kelenjar tiroid normal.
7. Kadar normal : Hb, kolesterol total, HDL, trigliserida, kalsium, fungsi hati.
8. Nyeri dada, hipertensi kronik, hiperlipidemia, diabetes militus perlu dikonsulkan terlebih dahulu ke spesialis penyakit dalam.

Kontra Indikasi Pemberian Estrogen
1. Troboemboli, penderita penyakit hati, kolelitiasis.
2. Sindrom Dubin Johnson / Botor yaitu gangguan sekresi bilirubin konjugasi.
3. Riwayat ikterus dalam kehamilan.
4. Kanker endometrium, kanker payudara, riwayat gangguan penglihatan, anemia berat.
5. Varises berat, tromboflebitis.
6. Penyakit ginjal.

Persyaratan dalam Pemberian Estrogen
1. Mulailah dengan menggunakan estrogen lemah ( estriol ) dan dengan dosis rendah yang efektif.
2. Pemberian secara siklik.
3. Diusahakan kombinasi degan progesteron ( bila digunakan estrogen lain seperti etinil estradiol maupun estrogen konjugasi ).
4. Perlu pengawasan ketat ( setiap 6-12 bulan ).
5. Bila terjadi perdarahan atipik perlu dilakukan kuretase.
6. Keluhan nyeri dada, hipertensi kronik, hiperlipidemia, diabetesmelitus, terlebih dahulu konsul ke bagian penyakit dalam.

Yang perlu diketahui :
1. Tidak semua keluhan dapat dihilangkan dengan pemberian estrogen.
2. Pelajari faktor-faktor yang menimbulkan keluhan ( faktor psikis, sosial budaya, atau hanya memang terdapat kekurangan estrogen ).
3. Atasi keluhan emosi dan faktor penyebab.

Efek samping pemberian estrogen :
1. Perdarahan bercak.
2. Perdarahan banyak ( atipik ).
3. Mual.
4. Sakit kepala.
5. Pruritus berat.

F. Faktor Resiko
Adipositas, diabetesmelitus, hipertensi, anovulasi, infertilitas, perokok, alkoholisme, hiperlipidemia.
Faktor yang mempengaruhi gejala perimenopause adalah :
  1. Genetik, usia menarche mempengaruhi cepat lambatnya terjadi menopause.
  2. Nutrisi ( kolesterol, kalsium, fosfat , vitamin ).
  3. Kadar hormon estrogen.
  4. Kebiasaan hidup ( olahraga, minum teh, kopi, minum alkohol, perokok ).
  5. Tingkat pendidikan dan status ekonomi.
  6. Pengangkatan kedua ovarium.

G. Pencegahan Terhadap Sindrom Klimakterium
  1. Pengaturan makanan ( rendah lemak / kolesterol, cukup vitamin A, C, D, E dan cukup serat ).
  2. Mengkonsumsi makanan yang mengandung fitoestrogen : a. Isiflavon, terdapat pada kacang-kacangan, b. Lignan; terdapat pada padi, sereal dan sayur-sayuran, c. Caumestran ; terdapat pada daun semanggi. Mengkonsumsi makanan dengan kadar gula rendah dan tidak berlebihan.
  3. Tambahan Asupan Kalsium 1000-15000 mg / hari dan vitamin D.
  4. Kontrol rutin 1 tahun sekali ( Pap Smear ).

Daftar Pustaka
  1. Wiknjosatro, Hanifa, Prof, dr, DSOG. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
  2. Mansjoer, Arief. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  3. Varney, Helen; Kriebs, Jan M; Gegor, Carolyn L. 2002. Buku Saku Bidan. Jakarta: EGC
»»  READ MORE...